FREEDOM:ECOLOGICAL JUSTICE, EXPRESSION, PRESS
Festival Media 2025
Di tengah krisis iklim, tekanan terhadap kebebasan berekspresi, dan melemahnya peran media independen, hadir kebutuhan untuk membangun ruang bersama—sebuah ruang yang memungkinkan suara-suara pinggiran muncul, gagasan gagasan alternatif tumbuh, dan solidaritas lintas sektor terjalin. Festival Media 2025 lahir dari semangat itu. Sebagai ruang temu antara AJI Kota, media alternatif, seniman, jurnalis, dan komunitas, festival ini membawa tajuk “Freedom”, sebagai penanda komitmen terhadap kebebasan berekspresi, kebebasan pers, dan perjuangan atas keadilan ekologi.
Festival ini bukan sekadar ajang diskusi atau pameran, melainkan sebuah ruang kolektif yang berfungsi sebagai tempat produksi dan diseminasi pengetahuan. Dalam dunia seni, budaya, dan gerakan sosial, kolektif telah lama menjadi wahana penting untuk eksplorasi, solidaritas, dan regenerasi gagasan. Ia bukan entitas statis, melainkan organisme yang hidup dan terus bergerak—seperti yang dikemukakan Jean-Luc Nancy dalam The Inoperative Community, kolektif adalah proses keterhubungan yang terus berlangsung. Di ruang ini, individu tidak hanya berbagi sumber daya, tapi juga merumuskan visi, bernegosiasi identitas, dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru.
Festival Media mengadopsi semangat ini, mengundang siapa pun—media lokal, komunitas akar rumput, seniman, hingga jurnalis independen—untuk hadir dan berpartisipasi dalam festival selama tiga hari di bulan September 2025, di kawasan Rotterdam, Makassar. Lokasi ini dipilih karena sifatnya yang mudah diakses (termasuk oleh disabilitas), dan mendukung pendekatan inklusif yang festival ini usung: terbuka, nirsampah, rendah karbon, dan tanpa diskriminasi.
Mengacu pada pemikiran Hakim Bey tentang Temporary Autonomous Zone, festival ini dibayangkan sebagai ruang eksperimental—sebuah zona otonom sementara di mana komunitas dapat menciptakan dunia baru tanpa tunduk pada mekanisme dominan kapitalisme. Di sini, isu lingkungan, kebebasan pers, dan ekspresi seni dipertemukan dalam bentuk bentuk partisipatif: dari diskusi panel, pameran fotografi, pemutaran film dokumenter, hingga lokakarya kreatif. Di malam hari, suasana bergeser ke ruang-ruang performatif: pertunjukan seni, musik, dan ekspresi kolektif lainnya.
Program Tudang Sipulung menjadi inti dari festival—sebuah forum strategi untuk merumuskan arah baru kolaborasi antara AJI, media alternatif, dan komunitas. Forum ini menjadi momen penting untuk mendefinisikan ulang peran media dalam advokasi lingkungan, dan bagaimana kerja kolektif bisa menjadi landasan perubahan yang berkelanjutan.
Melalui festival ini, AJI memfungsikan kolektif sebagai alat pedagogis sebagaimana dipikirkan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed. Pendidikan bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi proses sadar kolektif yang memungkinkan komunitas mendefinisikan dan mengubah realitasnya sendiri. Maka, Festival Media bukan hanya ajang diskusi, tetapi juga proses belajar bersama yang transformatif.
Kolektif juga diimajinasikan sebagai jaringan solidaritas lintas komunitas dan disiplin, memperkuat hubungan antara jurnalis, seniman, aktivis, dan warga yang memiliki visi serupa. Ini adalah ruang untuk partisipasi sosial, inklusi, dan eksperimentasi menjadi pilar utama—sebuah tempat untuk merancang ulang dunia ide secara kreatif dan kolaboratif.
Dalam semangat Silvia Federici, Festival Media juga mendorong lahirnya bentuk-bentuk ekonomi alternatif—model keberlanjutan yang tidak semata bergantung pada hibah atau sponsor, tetapi bertumpu pada pendanaan kolektif, sistem barter, dan ekonomi komunitas. Karena kerja kolektif, sebagaimana ditulis Federici dalam Caliban and the Witch, adalah dasar dari ketahanan komunitas yang ingin hidup di luar logika eksploitatif kapitalisme.
Akhirnya, Festival Media 2025 adalah ruang lintas—antara aktivisme dan seni, antara jurnalisme dan budaya, antara individu dan komunitas. Sebuah ruang untuk merayakan kebebasan, membangun konektivitas, dan menegaskan bahwa di tengah berbagai krisis, kerja kolektif adalah salah satu jawaban.
Di tahun 2025, Festival Media menunjuk Kota Makassar sebagai lokasi penyelenggaraan, dengan AJI Kota Makassar sebagai tuan rumah.
Festival Media 2025 akan berlangsung pada September 2025.
Tujuan Festival Media
-
Festival Media 2025 bertujuan untuk memperkuat kebebasan berekspresi dan kebebasan pers, dengan menyediakan platform bagi jurnalis, media alternatif, dan komunitas untuk berbagi gagasan dan pengalaman dalam melawan berbagai tantangan yang dihadapi dalam praktik jurnalisme dan seni.
-
Sebagai respons terhadap krisis lingkungan, festival ini bertujuan untuk mempertemukan berbagai pihak—seniman, aktivis, dan jurnalis—dalam upaya bersama mencari solusi melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai medium, termasuk seni visual, film, dan diskusi berbasis riset.
-
Festival ini mengadopsi konsep kolektif sebagai ruang untuk pertukaran ide dan pembelajaran bersama. Menggunakan perspektif Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, festival ini bertujuan untuk menciptakan ruang partisipatoris yang memungkinkan peserta untuk mendefinisikan dan mengubah realitas mereka melalui seni, literasi, dan diskusi kritis.
-
Dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu dan komunitas, festival ini bertujuan untuk memperkuat jaringan solidaritas lintas sektor dan membangun ruang untuk eksperimentasi kreatif serta aksi sosial yang lebih berkelanjutan dan inklusif.