HERALDSULSEL, MAKASSAR – Permata Bank kembali menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui inisiatif PermataHati, yang dikupas melalui diskusi di Festival Media 2025 bertajuk “Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi.”
Program ini difokuskan pada perlindungan habitat Gajah Sumatera di kawasan Bukit Tigapuluh, Jambi, yang kini menjadi rumah terakhir bagi sekitar 120 ekor gajah dan berbagai satwa endemik lain.
Head CSER Permata Bank, Hanggoro Seno, menjelaskan bahwa keberlangsungan satwa liar tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat adat yang hidup berdampingan di kawasan tersebut.
“Kami di PermataBank sangat peduli terhadap keseimbangan ekosistem yang mewujudkan ruang berbagi kehidupan harmonis antara manusia dan gajah. Harapannya, kontribusi ini berdampak nyata bagi pelestarian satwa sekaligus kesejahteraan warga,” ujarnya.
Melalui kerja sama dengan WWF-Indonesia, PermataBank telah meresmikan program #DenganHati Untuk Bukit Tigapuluh yang mencakup reforestasi dengan penanaman 3.600 bibit pohon di area hutan gundul.
Langkah ini diharapkan memperkuat Koridor Hidupan Liar Datuk Gedang, penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh seluas 60 ribu hektar.
Upaya tersebut juga didukung dengan program Adopt A Tree, di mana masyarakat dapat berkontribusi langsung melalui adopsi pohon yang ditanam di kawasan konservasi.
Menurut Hanggoro, hal ini adalah strategi jangka panjang yang bukan hanya menjaga habitat satwa, tetapi juga mendukung target Indonesia mencapai Net Zero Emission 2060.
Program konservasi ini turut disuarakan lewat peluncuran dokumenter Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh, hasil kolaborasi dengan WWF dan aktor Chicco Jerikho.
Film ini menampilkan kondisi nyata populasi gajah yang terus menipis akibat deforestasi, serta bagaimana masyarakat lokal harus berbagi ruang dengan satwa dilindungi.
Selain itu, hadir pula Grantee Pulitzer Center, Eko Rusdianto, memaparkan penelitiannya mengenai pergeseran tradisi di Toraja.
Ia mencontohkan simbolisme ukiran ayam pada Tongkonan dan tradisi Bulu Londong atau adu ayam yang dulunya menjadi sarana penyelesaian sengketa tanah tanpa kekerasan.
Kini, tradisi itu bergeser akibat masuknya ayam impor dari Filipina dan Peru, sehingga ayam lokal semakin langka dan berimbas pada ritual adat seperti penyembelihan ayam kaliabo di Makale.
Diskusi ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi masyarakat adat di tengah arus modernisasi dan perubahan lingkungan.
Kehadiran Permata Bank dengan program PermataHati menegaskan pentingnya sinergi antara pelestarian budaya dan konservasi alam demi keberlanjutan bersama. (*)